Basmallah

Sudah tidak asing kita mendengar kata basmallah. Khususnya seorang Muslim setiap hari terbiasa membaca kalimah atau ayat ini,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ﴿۱﴾ـ

yang artinya, "Dengan (menyebut) nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang"

Menurut kebiasaan dan pemahaman orang Arab, kata Iqra’ atau Aqra-u atau Naqra-u atau Isyra-u atau Asyra-u atau Nasyra-u harus dianggap ada dan tercantum sebelum kalimat ‘Bismillāh’, suatu ungkapan dengan arti “mulailah dengan nama Allah,” atau “Bacalah dengan nama Allah” atau “aku atau kami mulai dengan nama Allah,” atau “aku atau kami baca dengan nama Allah.” Dalam terjemahan ini ucapan ‘Bismillāh’ diterjemahkan “dengan nama Allah,” yang merupakan bentuk yang lebih lazim.

Kata Ismun mengandung arti: nama atau sifat. Di sini kata itu dipakai dalam kedua pengertian tersebut. Kata itu merujuk kepada ‘Allah,’ nama wujud Tuhan; dan kepada Al-Rahmān (Maha Pemurah) serta Al-Rahīm (Maha Penyayang). Keduanya nama sifat Allah Swt.

Kata Al-Rahmān (Maha Pemurah) dan Al-Rahīm (Maha Penyayang) keduanya berasal dari akar yang sama, yaitu kata Rahima yang artinya, "ia telah menampakkan kasih-sayang",  "ia ramah dan baik", "ia memaafkan", "ia mengampuni".

Dalam ilmu Shorof, kata Al-Rahmān itu masuk dalam wazan Fa‘lān, dan Al-Rahīm dalam wazan Fa‘īl. Menurut kaedah gramatika Bahasa Arab, makin banyak jumlah huruf ditambahkan pada akar kata, makin luas dan mendalam pula artinya. Wazan (pola kata) fa‘lān mengandung arti keadaan penuh dan keluasan, sedangkan wazan fā‘il menunjukkan arti ulangan dan pemberian ganjaran dengan kemurahan hati kepada mereka yang layak menerimanya.

Jadi, di mana kata Al-Rahmān menunjukkan “kasih sayang yang meliputi alam semesta”, sedangkan kata Al-Rahīm berarti “kasih sayang yang ruang lingkupnya terbatas, tetapi berulang-ulang ditampakkan.”

Mengingat arti-arti di atas, Al-Rahmān itu Dzat Yang menampakkan kasih sayang dengan cuma-cuma dan meluas kepada semua makhluk tanpa mempertimbangkan usaha atau amal; dan Al-Rahīm itu Dzat Yang menampakkan kasih sayang sebagai imbalan atas amal perbuatan manusia, tetapi menampakkannya dengan murah dan berulang-ulang.

Kata Al-Rahmān hanya dipakai untuk Allah swt, sedang Al-Rahīm dipakai pula untuk manusia. Al-Rahmān tidak hanya meliputi orang-orang mukmin dan kafir saja, tetapi juga seluruh makhluk. Al-Rahīm terutama tertuju kepada orang-orang yang beriman saja.

Menurut Sabda Rasulullah saw, sifat Al-Rahmān umumnya bertalian dengan kehidupan di dunia ini, sedang sifat Al-Rahīm umumnya bertalian dengan kehidupan yang akan datang. Artinya, karena dunia ini pada umumnya adalah dunia perbuatan, dan karena alam akhirat itu suatu alam tempat perbuatan manusia akan diganjar dengan cara istimewa, maka sifat Al-Rahmān Allah swt menganugerahi manusia alat dan bahan untuk melaksanakan pekerjaannya dalam kehidupan di dunia ini, adapun Sifat Al-Rahīm mendatangkan hasil dalam kehidupan yang akan datang. Segala benda yang kita perlukan dan atas itu kehidupan kita bergantung adalah semata-mata karunia Ilahi dan sudah tersedia untuk kita, sebelum kita berbuat sesuatu yang menyebabkan kita layak menerimanya, atau bahkan sebelum kita dilahirkan; sedang karunia yang tersedia untuk kita dalam kehidupan yang-akan-datang, akan dianugerahkan kepada kita sebagai ganjaran atas amal perbuatan kita. Hal itu menunjukkan bahwa Al-Rahmān itu Pemberi Karunia yang mendahului kelahiran kita, sedang Al-Rahīm itu Pemberi Nikmat-nikmat yang mengikuti amal perbuatan kita sebagai ganjarannya.

Bismillāh-ir-Rahmān-ir-Rahīm adalah ayat pertama tiap-tiap surah Al-Qur’an, kecuali Al-Bara’ah atau kita kenal dengan At-Taubah. Surah ini bukan surah yang berdiri sendiri, melainkan lanjutan surah Al-Anfal. Ada suatu hadis yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَعْرِفُ فَصْلَ السُّورَةِ حَتَّى تَنَزَّلَ عَلَيْهِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan Ahmad bin Muhammad Al Marwazi serta Ibnu Sarh mereka mengatakan telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Amru dari Sa'id bin Jubair -Qutaibah mengatakan dalam riwayat tersebut- dari Ibnu Abbas dia berkata; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengetahui pemisah antar surat hingga diturunkan kepada beliau "Bismillahir Rahmanir Rahim" (H.R. Abu Dawud No. 669)

yang maksudnya, bila sesuatu surah-baru diwahyukan, biasanya dimulai dengan ‘Bismillāh’, dan tanpa ‘Bismillāh’, Rasulullah saw tidak mengetahui bahwa surah baru telah dimulai. Hadits ini menunjukkan bahwa:

  1. ‘Bismillāh’ adalah bagian Al-Qur’an dan bukan suatu tambahan, 
  2. Bahwa surah Bara’ah itu, bukan surah yang berdiri sendiri. Hadis itu menolak pula kepercayaan yang dikemukakan oleh sementara orang bahwa, ‘Bismillāh’ hanya merupakan bagian surah Al-Fatihah saja dan bukan bagian semua surah Al-Qur’an. Selanjutnya, ada riwayat yang menyebutkan Rasulullah Saw bersabda bahwa, ayat Bismillāh itu bagian semua surah Al-Qur’an (Bukhārī dan Qutni). 
Ditempatkannya ‘Bismillāh’ pada permulaan tiap-tiap surah mempunyai arti seperti berikut: Al-Qur’an itu khazanah ilmu Ilahi yang tidak dapat disentuh tanpa karunia khusus dari Tuhan,

---- sampai disini ----

“Tidak ada yang dapat memahami hakikatnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS.56: 80). Jadi, ‘Bismillāh’ telah ditempatkan pada permulaan tiap surah untuk memperingatkan orang Muslim bahwa, untuk dapat masuk ke dalam Khazanah ilmu Ilahi yang termuat dalam Al-Qur’an dan untuk mendapat faedah darinya ia hendaknya mendekatinya bukan saja dengan hati yang suci, melainkan ia harus pula senantiasa mohon pertolongan Allah Swt Ayat ‘Bismillāh’ mempunyai juga tujuan penting yang lain. Ayat itu ialah kunci bagi arti dan maksud tiap-tiap surah, karena segala persoalan mengenai urusan akhlak dan rohani, dengan satu atau lain cara, ada pertaliannya dengan dua Sifat Ilahi yang pokok, yaitu Rahmāniyah (Kemurahan) dan Rahīmiyah (Kasih-Sayang). Jadi tiaptiap surah pada hakikatnya, merupakan uraian terperinci dari beberapa segi Sifat-sifat Ilahi yang tersebut dalam ayat ini. Ada tuduhan bahwa kalimah ‘Bismillāh’, itu diambil dari kitab-kitab suci sebelum Al-Qur’an. Jika Sale mengatakan bahwa, kalimah itu diambil dari Zend Avesta, maka Rodwell berpendapat bahwa, orang-orang Arab sebelum Islam mengambilnya dari orang-orang Yahudi, dan kemudian dimasukkan ke dalam Al-Qur’an. Kedua paham itu nyata sekali salah. Pertama, tidak pernah dida‘wakan oleh kaum Muslimin bahwa, kalimah itu dalam bentuk ini atau sebangsanya tidak dikenal sebelum Al-Qur’an diwahyukan. Kedua, keliru sekali mengemukakan sebagai bukti bahwa, karena kalimah itu dalam bentuk yang sama atau serupa kadang-kadang dipakai oleh orangorang Arab sebelum diwahyukan dalam Al-Qur’an, maka kalimah itu tidak mungkin asalnya dari Allah Swt. Sebenarnya Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa, Nabi Sulaiman As memakai kalimah itu dalam suratnya kepada Ratu Saba (QS.27: 31). Apa yang dida’wakan oleh kaum Muslimin – sedang da’wa itu, tidak pernah ada yang membantah, ialah bahwa, di antara kitab-kitab suci, Al-Qur’an adalah yang pertama-tama memakai kalimah itu dengan caranya sendiri. Juga keliru sekali mengatakan bahwa, kalimah itu sudah lazim di antara orang-orang Arab sebelum Islam, sebab kenyataan yang sudah diketahui ialah bahwa, orang-orang Arab mempunyai rasa keseganan menggunakan kata Al-Rahmān sebagai panggilan untuk Allah Swt. Selain itu, jika kalimah demikian sudah dikenal sebelumnya, maka hal itu malah mendukung kebenaran ajaran Al-Qur’an bahwa, tidak ada satu kaum pun yang kepada mereka tidak pernah diutus seorang Pemberi Ingat (QS.35: 25), dan juga bahwa, Al- Qur’an itu adalah khazanah semua kebenaran yang kekal dan termaktub dalam kitabkitab suci sebelumnya (QS.98: 5). Al-Qur’an tentu menambah lebih banyak lagi dan apa pun yang diambil-alihnya, Al-Qur’an memperbaiki bentuk atau pemakaiannya, atau memperbaiki kedua-duanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hadits: Rasulullah saw Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak

Hadits: Waktu Berbuka Puasa

Hadits: Shalat Qashar bagi Musafir