Bagaimana Menangani Wabah Sesuai Sunnah

Allah subhaanahu wata'ala telah memberikan bahasa khusus di dalam Alquran berkenaan dengan wabah yang menjangkiti manusia. Akhir-akhir ini kita digemparkan dengan pandemik virus corona  (Severe Acute Respiratory Syndrome Related Coronavirus 2) yang mengakibatkan penyakit Covid-19 yang berdampak ringan hingga kematian.

Sedikit gambaran awal, bahwa virus itu sebenarnya materi genetik dan beberapa protein. Sebenarnya bisa dikategorikan bukan makhluk hidup. Tetapi kenapa bisa berbahaya? Karena virus masuk ke dalam jaringan hidup dengan cara memasuki sel hidup.

Penyebaran utamanya dalah melalui tetesan air kecil yang menyebar ketika seseorang batuk. Atau bisa saja karena kita menyentuh seseorang yang sudah terinfeksi lalu menyentuh wajah kemudian masuk melalui mulut atau hidung. Setelah itu virus tersebut menduplikasikan diri melalui sel manusia.

Virus Masuk Kategori Daabbah


Allah Ta'ala berfirman,

وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ

“Dan apabila terjadi nubuatan kehancuran atas mereka, Kami akan mengeluarkan bagi mereka
binatang dari bumi yang akan melukai mereka, Dikarenakan manusia tidak yakin atas ayat-ayat Kami.” (An-Naml: 83 dengan basmallah)

kata yang saya soroti dari ayat tersebut adalah kata:
دَابَّةً
daabbah

Dalam Alquran dengan Terjemah dan Tafsir Singkat terbitan Jemaat Ahmadiyah Indonesia, terdapat tafsir dari ayat tersebut, yaitu:


Ini adalah nubuatan berkenaan dengan timbulnya wabah di akhir zaman. Ayat ini diterangkan demikian oleh Rasulullah Saw sendiri. Yang dimaksud dengan daabbah ialah bakteri dari pest yang akan muncul pada akhir zaman. Bakteri itu akan menyerang tubuh seseorang dan orang tersebut akan meninggal. Berdasarkan hadis Rasulullah Saw yang menerangkan mengenaiakhir zaman, dikatakan bahwa akan timbul Daabbatul-Ard, yaitu binatang-binatang bumi, (Ibnu Katsir dan Fathul Bayan hal. 231, Surah An-Naml). Di dalam hadis Muslim dijelaskan bahwa pada akhir zaman akan timbul suatu penyakit Naghaf yakni penyakit yang ada pada unta. Jika kedua hadis tersebut kita cocokkan maka kita akan mendapat suatu khabar ghaib bahwa di akhir zaman penyakit pes (pest) akan menyebar di seluruh dunia. Kita akan dapat memahami penyebab penyakit pes adalah bakteri yang tersembunyi.

Menurut tafsir dan beberapa hadits, dapat disimpulkan bahwa bakteri, kuman, virus yang mengakibatkan penyakit bisa masuk kategori daabbah.


Bagaimana Ketika Wabah Terjadi?

Ketika wabah mulai terjadi--misalnya wabah corona-- maka isolasi terbatas adalah yang terbaik. Ketika memang dalam satu kota/negeri sudah zona merah atau wabah sudah merebak, maka karantina atau lockdown adalah solusi terbaik. Diriwayatkan,

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ هَذَا حَدِيثُ الْقَعْنَبِيِّ وَقُتَيْبَةَ نَحْوُهُ

Dari Usamah bin Zaid dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tha'un (penyakit menular/wabah kolera) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya." Dan Hadits Qutaibah seperti itu juga. (HR. Muslim)

Jadi, ketika kita mengetahui di satu daerah sudah berjangkit, janganlah masuk karena resiko untuk tertular sangat besar. Dan orang-orang yang sudah ada di tempat tersebut dilarang untuk keluar dari sana agar wabah tidak merambah ke negeri lainnya. Rasulullah saw sebagai icon rahmatan lil 'aalamiin mengajarkan hal ini untuk kebaikan manusia seluruhnya.

Ini adalah ujian bagi hamba-Nya. Yang taat akan selamat dan menyelamatkan orang lain. Seangkan yang tidak taat kepada-Nya akan mendapatkan akibat yang buruk bahkan menimbulkan keburukan bagi yang lain.

Lalu, bisa saja orang yang taat kepada Allah terkena wabah tersebut. Lalu apa ganjarannya? Diriwayatkan,

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُوعَكُ فَمَسِسْتُهُ بِيَدِي فَقُلْتُ إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا قَالَ أَجَلْ كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ قَالَ لَكَ أَجْرَانِ قَالَ نَعَمْ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مَرَضٌ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

dari Ibnu Mas'ud radliallahu 'anhu mengatakan; "Aku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika beliau sedang menderita demam yang sangat berat, lantas kupegang dengan tanganku. Aku berujar; 'Sepertinya engkau terkena sakit dan demam yang sedemikian serius'. Beliau menjawab: "Benar, rasa sakit yang menimpaku ini sama seperti rasa sakit yang menimpa dua orang dari kalian." Aku berujar; "Oh, kalau begitu anda mendapatkan pahala dua kali lipat?! Jawab beliau: 'Engkau benar, tidaklah seorang muslim terkena gangguan, baik itu sakit atau lainnya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karena sakitnya sebagaimana pohon mengugurkan daunnya." (H.R. Bukhari)

Jika seorang Muslim sakit karena wabah, maka dosa-dosanya akan diampuni. Lalu bagaimana Muslim yang sehat, apakah mereka mendapatkan "hadiah" dari Allah juga? Diriwayatkan,


عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ ابْنَ آدَمَ إِنْ صَبَرْتَ وَاحْتَسَبْتَ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى لَمْ أَرْضَ لَكَ ثَوَابًا دُونَ الْجَنَّةِ

Dari Abu Umamah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman: "Hai anak Adam, jika kamu bersabar dan ikhlas saat tertimpa musibah, maka aku tidak akan meridlai bagimu sebuah pahala kecuali surga. " (H.R. Ibnu Majah)

Jadi seorang Muslim yang sabar ketika terjadi musibah wabah dan tetap bertawakkal kepada Allah, maka ia berkesempatan diberi hadiah Surga. Lalu bagaimana orang yang terkena dampaknya hingga meninggal? Diriwayatkan,

عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا سَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الطَّاعُونِ فَقَالَ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ مَا مِنْ عَبْدٍ يَكُونُ فِي بَلَدٍ يَكُونُ فِيهِ وَيَمْكُثُ فِيهِ لَا يَخْرُجُ مِنْ الْبَلَدِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

Dari Yahya bin Ya'mar bahwasanya Aisyah radliallahu 'anhuma mengabarkan kepadanya, ia pernah bertanya Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam tentang tha'un (penyakit pes, lepra), Nabi bersabda: "Itu adalah siksa yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Dan tidaklah seorang hamba di suatu negeri yang terkena penyakit tha'un dan ia tinggal disana, ia tidak mengungsi dari negeri itu dengan sabar dan mengharap pahala disisi Allah, ia sadar bahwa tak akan menimpanya selain yang telah digariskan-Nya baginya, selain baginya pahala seperti pahala syahid." (H.R. Bukhari)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang mati karena wabah Ta'un adalah syahid bagi setiap muslim". (H.R. Bukhari)

Jadi seseorang Muslim yang mau bersabar dan tetap tinggal di sana diberikan "hadiah" oleh Allah Ta'ala dengan gelar syahid.

Isolasi yang Sakit dari yang Sehat

Diriwayatkan satu hadits agar memisahkan (mengisolasi) yang sehat dari yang sakit. Dalam Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Pengobatan:

حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا عَدْوَى قَالَ أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُورِدُوا الْمُمْرِضَ عَلَى الْمُصِحِّ وَعَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي سِنَانُ بْنُ أَبِي سِنَانٍ الدُّؤَلِيُّ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ أَرَأَيْتَ الْإِبِلَ تَكُونُ فِي الرِّمَالِ أَمْثَالَ الظِّبَاءِ فَيَأْتِيهَا الْبَعِيرُ الْأَجْرَبُ فَتَجْرَبُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ

Telah menceritakan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Abu Hurairah berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada 'adwa (keyakinan adanya penularan penyakit)." Abu Salamah bin Abdurrahman berkata; saya mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat." Dan dari Az Zuhri dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Sinan bin Abu Sinan Ad Du`ali bahwa Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada 'adwa (keyakinan adanya penularan penyakit) " maka seorang Arab badui berdiri dan berkata; "Lalu bagimana dengan unta yang ada di padang pasir, seakan-akan (bersih) bagaikan gerombolan kijang lalu datang padanya unta berkudis dan bercampur baur dengannya sehingga ia menularinya?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Lalu siapakah yang menulari yang pertama." (H.R. Bukhari)

Dalam hadits tersebut menyatakan bahwa satu wabah itu ada satu sebab. Jika penyebab terjadi wabah disolasi lebih awal maka yang lain akan selamat.

Apakah Wabah Mempengaruhi Ibadah?

Diriwayatkan bahwa ketika hujan, badai atau becek maka Rasulullah saw pernah menyuruh orang-orang untuk shalat di rumah masing-masing. Maka dalam keadaan yang lebih gawat atau darurat karena wabah bisa diizinkan untuk shalat di rumah masing-masing. Diriwayatkan,

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ إِذَا قُلْتُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلَا تَقُلْ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قُلْ صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَلِكَ فَقَالَ قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُخْرِجَكُمْ فَتَمْشُونَ فِي الطِّينِ وَالْمَطَرِ

bahwa Ibnu Abbas berkata kepada Mu'adzinnya ketika hujan lebat; "Jika aku mengucapkan; "asyhadu anna Muhammadan Rasulullah" maka jangan kamu teruskan dengan; "Hayya 'alas shalah" tapi serukanlah; "Shalluu fii buyuutikum (Shalatlah kalian di rumah kalian masing-masing." Mendengar hal itu, orang-orang banyak mengingkarinya, maka Ibnu Abbas berkata; "Yang demikian itu telah di kerjakan oleh orang-orang yang lebih baik daripadaku, sesungguhnya jum'at merupakan suatu kewajiban, namun aku tidak bermaksud menyuruh kalian keluar rumah melalui jalan yang berlumpur lagi becek." (H.R. Abu Dawud)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hadits: Rasulullah saw Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak

Hadits: Waktu Berbuka Puasa

Hadits: Shalat Qashar bagi Musafir